Pendidikan merupakan pondasi awal manusia untuk dapat berjalan dalam kehidupan ini. Sejak awal manusia diciptakan, pendidikan telah menjadi bagian dalam kehidupan untuk dapat beradaptasi dengan lingkungan. Tujuan yang hakiki pendidikan adalah upaya membangun manusia agar dapat mengembangkan dirinya secara berkelanjutan dan mandiri sebagai seorang manusia seutuhnya. Dalam menjalani kehidupan, manusia memerlukan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang fleksibel, serta akomodatif terhadap tantangan zaman. Manusia yang diharapkan dari hasil pendidikan yakni, mereka yang dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikapnya tidak saja mampu menghadapi masalah yang dialaminya, akan tetapi secara proaktif dapat mengendalikan diri dan lingkungannya untuk mencapai tujuan hidupnya secara mandiri dan bertanggungjawab.
Proses pendidikan sudah dilakukan sejak bayi oleh orang tua. Mereka diajarkan untuk mengenal lingkungan sekitarnya. Proses pembelajaran yang dilakukan berupaya memberikan kebenaran yang ada, seperti ”itu Ayah”, ”ini Ibu”. Proses pembelajaran ini berlanjut seumur hidup dengan terciptanya pengalaman-pengalaman yang terjadi dalam dirinya. Dalam pendidikan formal saat ini, proses pembelajaran ini dikembangkan lebih lanjut dengan menciptakan pengalaman-pengalaman yang akan diberikan kepada siswa melalui kurikulum berbasis kompetensi yang telah ditetapkan oleh pemerintah, tentunya berhubungan dengan keseharian siswa .
Matematika merupakan pelajaran pokok yang harus diajarkan dalam pendidikan formal tingkat dasar dan menengah karena dianggap pelajaran yang esensial. Pelajaran matematika sudah diajarkan pada sekolah dasar kelas satu sampai dengan sekolah menengah umum dan kejuruan. Matematikan merupakan sebuah ilmu yang selalu berhubungan dengan kehidupan dimana siswa berada. Kegiatan apapun yang siswa lakukan dalam keseharian tentunya akan berhubungan dengan ilmu matematika, baik pada siswa sedang bermain, membeli makanan, maupun sedang jalan-jalan. Pengalaman yang terbentuk dalam diri siswa akan ilmu matematika sebenarnya merupakan modal dasar yang baik untuk lebih meningkatkan pelajaran matematika di sekolah. Matematika merupakan ilmu yang bernilai guna. ”Kebergunaan matematika lahir dari kenyataan bahwa matematika menjelma sebagai alat komunikasi yang tangguh, singkat, padat, dan tidak memiliki keberbedaan nilai ganda” (Wahyudin,2003:6).
Kenyataan dilapangan menurut Cockcroft (1981) ” Mathematics is a difficult both to teach and learn” atau matematika merupakan pelajaran yang sulit untuk diajarkan dan dipelajari. Kesulitan ini terjadi karena matematika merupakan pelajaran yang berstruktural vertikal dimana terdapat suatu runtutan yang harus dilalui untuk mempelajari materi matematika. Banyak siswa di persekolahan menyatakan bahwa pelajaran yang paling sulit disekolah adalah matematika. Hal ini dapat terjadi karena proses pembelajaran matematika yang kurang komunikatif di dalam kelas yang hanya mempergunakan bahasa-bahasa angka. Selain itu, guru juga kurang memahami akan ketercapaian konsep matematika yang diserap oleh siswa. Proses pembelajaran yang terlalu cepat menyebabkan penyerapan konsep yang tidak merata pada siswa karena kemampuan siswa yang berbeda-beda. Proses pembelajaran yang lambat pun akan membuat kejenuhan bagi siswa. Materi yang tepat diberikan dengan rentang waktu dan metode yang tepat dengan karakteristik umum siswa. Berdasarkan hasil penelitian bahwa siswa hanya akan belajar khususnya matematika dengan baik ketika siswa menyusun sendiri pemahaman matematikanya (Mathematical Sciences Education Board, 1990,p.58).
Terkadang, banyak guru yang tidak memahami pentingnya membelajarkan matematika dengan cara berkomunikasi seperti kehidupan sehari-hari dalam perniagaan, di rumah, di pasar dll. Kenyataan ini selaras dengan standar kurikulum dan evaluasi matematika (NCTM, 1989) seperti dikutip Sion dkk (2004), memberikan 5 kemampuan yang dimiliki siswa, yaitu :
Bahwa siswa belajar tentang nilai-nlai pada matematika.
Bahwa siswa menjadi percaya diri dengan kemampuannya untuk mengerjakan matematika.
Bahwa siswa menjadi mampu memecahkan masalah matematika.
Bahwa siswa belajar berkomunikasi matematika.
Bahwa siswa belajar untuk memberikan alasan/berfikir secara matemati
Mengkomunikasikan matematika menjadi kemampuan yang harus digali oleh guru agar siswa memiliki kemampuan memberikan informasi yang padat, singkat, dan akurat melalui nilai-nilai yang dibahasakan. Kenyataan ini jelas karena matematika banyak digunakan dalam bidang ilmu lain yang berhubungan langsung dalam kehidupan kita. Matematika menjadi sangat penting peranannya bagi kegiatan-kegiatan di bidang bisnis, perdagangan,industri, bahkan untuk dunia perkantoran yang memberikan jasa produksi.
Mengkomunikasikan matematika merupakan suatu kemampuan untuk menggunakan nilai-nilai matematika meliputi notasi/tanda, lambang, dan terminologi amtematika. Hal ini ditekankan untuk memberikan berbagai masalah yang merupakan situasi nyata dimana siswa mempunyai kesempatan untuk membaca, komunuikasi matematika gagasan dengan menggunakan bahasa matematika, sehingga siswa mengkomunikasikan gagasannya dan mengkonsolidasi pemikirannya untuk memecahkan permasalahan yang ada. Untuk mengatasi masalah dari gambaran di atas, sudah seharusnya para guru berupaya mencari sebuah model pembelajaran matematika yang menekankan pada berkomunikasi lewat matematika yang tepat agar memudahkan siswa dalam memberikan informasi yang jelas, efektif dan singkat dalam kehidupan sehari-hari.
Pembelajaran dengan menggunakan LKS berbentuk komik menjadi salah satu alternatif yang diperkirakan dapat meningkatkan kemampuan komunikasi matematika yang akhirnya dapat memberikan pengaruh positif terhadap pembelajaran matematika di sekolah. LKS berbentuk komik merupakan modifikasi dari lembar kerja siswa (LKS) yang dirancang dan disusun ke dalam bentuk sebuah komik. Lembar Kerja Siswa (LKS) merupakan kumpulan lembaran pedoman bagi siswa untuk melakukan sesuatu kegiatan yang telah dirancang dan direncanakan secara sistematis untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Lembar Kerja Siswa (LKS) dapat mengaktifkan siswa dala proses pembelajaran, membantu siswa untuk mengembangkan teori dan hasil temuan, membantu siswa mengembangkan keterampilan proses dengan mencatat semua kegiatan yang dilakukan serta dapat menggali pengalaman siswa akan suatu konsep yang dipelajari melalui suatu kegiatan. Manfaat LKS bagi guru dapat membantu dalam penyusunan atau penentuan rencana pembelajaran dan tentunya sebagai pedoman guru dalam proses pembelajaran.
Media komik merupakan bentuk media grafik dua dimensi, yaitu media yang dipakai menyangkut indra penglihatan. Pesan akan disampaikan ke dalam simbol-simbol komunikasi visual. Media ini akan memberikan pengaruh terhadap perolehan kemampuan dari hasil belajar, karena mampu menarik perhatian dan minat, memperjelas ide, serta sederhana dalam penyampaian informasi. Menurut Masdiono (1998: 3) “Komik merupakan bagian rangkaian gambar yang bercerita serta memberikan kesan-kesan terhadap pembacanya”. Keberadaan komik dewasa ini hanya digunakan sebagai sarana hiburan bagi anak. Bacaan komik banyak digemari anak karena gambar dalam komik menyajikan peristiwa dan latar belakang secara jelas, dinamis, dan hidup. Media ini menekankan kepada unsur gambar yang bercerita. Berdasarkan pengertian di atas, LKS berbentuk komik merupakan hasil pengembangan dari lembar kerja siswa (LKS) berupa pedoman-pedoman kegiatan belajar yang dirancang dan disusun ke dalam bentuk sebuah komik secara sistematis untuk mencapai suatu tujuan.
Penggunaan LKS berbentuk komik diharapkan dapat mewujudkan tujuan pembelajaran matematika dalam kurikulum KTSP. Tujuan tersebut mengharapkan siswa terampil memecahkan masalah (problem solving), penalaran (reasoning), dan mengkomunikasikan secara matematika (mathematical communication). Keterampilan mengkomunikasikan secara matematika merupakan salah satu keterampilan yang harus dimiliki siswa selain keterampilan yang lain. Agar siswa menguasai keterampilan mengkomunikasikan secara matematika, siswa harus dilatih secara terus menerus dan guru harus memberikan suasana belajar yang tepat.
Berdasarkan uraian tersebut, maka ada dua hal yang menjadi perhatian oleh para guru dalam mengembangkan LKS berbentuk komik. Pertama, karakteristik dari LKS berbentuk komik yang dapat menarik perhatian dan minat, memperjelas ide, serta sederhana dalam penyampaian informasi Kedua, adalah keterampilan mengkomunikasikan secara matematika yang dapat ditanamkan pada siswa. Berdasarkan pemaparan ini diharapkan para guru dapat mengembangkan media LKS berbentuk komik ini dalam proses pembelajaran sehari-hari di kelas. Amiin. (Ali)