KEGIATAN PENGEMBANGAN PROFESIONAL GURU IPA

KEGIATAN PENGEMBANGAN PROFESIONAL GURU IPA

 

ABSTRAK

Indrie Prihastuti, M.Si

Widyaiswara LPMP Provinsi Banten

 

Banyak guru yang memiliki akses untuk mengikuti kegiatan pengembangan prrofesional berdasarkan konten yang mereka ajarkan.Permasalahannya bukan hanya kepada penyediaan jenis kegiatan pengembangan profesional saja, tetapi juga bagaimana menyelenggarakan kegiatan-kegiatan tersebut secara efektif. Standar pengembangan professional guru telah dikembangkan oleh National Science Educational Standard tentang bagaimana kegiatan pengembangan professional guru IPA dilakukan secara ideal. Berbagai permasalahan yang dihadapi dalam kegiatan pengembangan professional guru IPA, salah satunya adalah ketidak efektifan penyelenggaraan workshop atau diklat. Belum lagi permasalahan khusus yang menyangkut pengembangan professional bagi guru IPA, dimana mereka harus paham benar bagaimana membelajarkan IPA sesungguhnya di kelas. beberapa solusi ditawarkan pada pembahasan karya tulis ini.

 

Kata Kunci : Pengembangan, Profesional, Guru, IPA

 A. Latar Belakang

Pengembangan profesionalisme guru menjadi perhatian secara global, karena guru memiliki tugas dan peran bukan hanya memberikan informasi-informasi ilmu pengetahuan dan teknologi, melainkan juga membentuk sikap dan jiwa yang mampu bertahan dalam era hiperkompetisi. Mengajar menjadi sebuah profesi ketika guru mempraktekkan pembelajaran dengan dasar pengetahuan yang umum dan menggunakan pengetahuannya untuk praktek mengajar yang efektif (NSTA 2003). Selama menjalankan tugas-tugas profesional, guru seharusnya melakukan profesionalisasi atau proses penumbuhan dan pengembangan profesinya.

Menurut Komba & Nkumbi (2008), pengembangan profesionalisme guru adalah proses peningkatan akademik, kompetensi, dan efisiensi dalam menjalankan kewajiban profesional di dalam atau di luar kelas. Berdasarkan Permenegpan dan Reformasi Birokrasi Nomor 16/2009, pengembangan keprofesian berkelanjutan adalah pengembangan kompetensi guru yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan, bergradasi, dan berkelanjutan untuk meningkatkan profesionalitasnya.

Saat ini banyak guru yang memiliki akses untuk mengikuti kegiatan pengembangan prrofesional berdasarkan konten yang mereka ajarkan (Wei et al., 2010). Permasalahannya bukan hanya kepada penyediaan jenis kegiatan pengembangan profesional saja, tetapi juga bagaimana menyelenggarakan kegiatan-kegiatan tersebut secara efektif. Berdasarkan penelitian Darling-Hammond et al (2009), 90% guru yang berpartisipasi dalam kegiatan pengembangan profesional menyatakan bahwa kegiatan yang mereka ikuti tersebut tidak bermanfaat. Masalah sebenarnya adalah bukan karena ketersediaan kegiatan pengembangan profesional, tetapi ketidakefektifan

program yang ditawarkan (Gulamhusein, 2017). Berdasarkan permasalahan tersebut, karya tulis ini disusun untuk memberikan gambaran mengenai bagaimana seharusnya kegiatan pengembangan pengembangan profesional guru dilaksanakan agar dapat memberikan efek/dampak yang nyata terhadap kemampuan dan keterampilan guru dalam mengajar di kelas.

 

B. Tujuan

Tujuan dari penulisan karya tulis ini  ini adalah untuk memberikan gambaran akan bentuk-bentuk kegiatan pengembangan profesional yang ideal yang dapat meningkatkan pemahaman dan keterampilan guru dalam meningkatkan profesionalismenya

 

C. Manfaat

Manfaat dari penyusunan makalah ini adalah untuksebagai acuan dalam mengevaluasi kegiatan pengembangan profesional yang telah dilaksanakan dan acuan dalam mengembangkan kegiatan profesional yang lebih bervariasi dan efektif terutama bagi LPTK, LPMP dan Dinas Pendidikan serta MGMP.

 

D. Kajian Teori

Hakikat Pengembangan Profesional Guru IPA

Saat ini sangat diperlukan pembaharuan subtantif dalam pendidikan sains tentang bagaimana sains diajarkan dan hal ini berimplikasi pula pada praktek pengembangan profesional pada semua level, baik pendidikan bagi calon guru ataupun kegiatan training bagi guru profesional. Banyak kegiatan pengembangan profesional yang sifatnya masih tradisional dalam menyampaikan konten sains dan teknik mengajar sains. Informasi tentang sains tidak lebih dari sekedar pengetahuan akan fakta-fakta yang harus diingat bahkan kegiatan laboratorium yang diajarkan jauh dari sifat inkuiri, penalaran dan pengambilan keputusan. Jika guru/calon guru belajar dengan cara seperti ini, maka standar-standar yang akan di bahas pada bab ini tidak akan pernah tercapai.

Menurut Science Education National Standard (NSES, 1996), ada empat asumsi tentang hakikat kegiatan pengembangan profesional bagi guru IPA , yaitu:

  1. Pengembangan profesional adalah proses yang berkelanjutan sepanjang hayat.

Pemahaman dan kemampuan untuk menjadi seorang guru sains profesional tidaklah statis karena ilmu sains selalu berkembang dan pengetahuan tentang pembelajaran pun berkembang dengan pesat. Selain itu, kehidupan lingkungan sosial juga selalu berkembang dan berubah. Hal ini juga berdampak kepada perilaku siswa di sekolah dan di kelas, dimana guru harus selalu peka dalam menyikapinya melalui pendekatan-pendekatan pembelajaran, kurikulum dan penilaian

yang efektif. Guru IPA membangun pengetahuan dan kemampuannya secara bertahap dan berkelanjutan, dimulai dari pendidikan sebagai calon guru kemudian masuk ke dalam dunia sekolah, bekerja dan berinteraksi dengan guru-guru lainnya, ikut dalam kegiatan pengembangan profesional, berbagi pengalaman dengan teman-teman sejawatnya dan seterusnya hingga akhir karirnya sebagai seorang guru. Semua ini harus guru lakukan untuk memenuhi kebutuhan siswa akan perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan yang akan membekali mereka dalam menghadapi tantangan dan kehidupan di masa mendatang.

2.  Guru adalah target, sumber, dan pendukung dalam kegiatan pengembangan profesional

Guru merupakan target dari kegiatan pengembangan profesional. Guru juga memiliki kesempatan untuk menjadi sumber bagi pengembangan profesional dirinya sendiri dan sekaligus menjadi pendukung/penyemangat bagi kemajuan guru-guru lainnya. Tantangan dalam pengembangan profesional guru sains adalah melakukan kegiatan kolaborasi pembelajaran yang optimal sebagai sumber terbaik yang dapat menghubungkan antara pengetahuan dan pengalaman langsung yang dibutuhkan oleh guru.

3. Kegiatan pengembangan profesional bertujuan mengembangkan kemampuan spesifik bagi pertumbuhan intelektual profesional. Kegiatan pengembangan profesional tidaklah terbatas kepada kemampuan teknis seorang guru, namun juga membutuhkan pemahaman tentang pengetahuan teoritis dan praktek. Banyak sekali praktek pengembangan profesional sifatnya pemberian informasi melalui kuliah atau workshop. Cara lain untuk mempelajari bagaimana mengajar sains adalah dengan melakukan penelitian berbasis kelas, sedangkan cara yang berguna untuk mempelajari konten sains melalui partisipasi kegiatan di laboratorium.

4. Kegiatan pengembangan profesional bersifat kontekstual dengan pekerjaan guru di sekolah, berisi kontek tentang pengembangan pemahaman dan kemampuan guru yang dapat digunakan secara langsung.

 

Standar Pengembangan Profesional Guru IPA

Standar pengembangan professional guru IPA yang akan dibahas adalah berdasarkan standar yang dikeluarkan oleh National Education Scienc Standard (NSES, 1996).

Standar A

“Pengembangan profesional untuk guru sains membutuhkan pembelajaran tentang konten sains melalui metode inkuiri”

Pertanyaan mendasar dalam hal ini adalah : apa yang perlu guru sains ketahui? Pengetahuan dasar apa yang perlu diketahui dan seberapa luas dan dalam pengetahuan yang harus dipelajari guru? Untuk dapat memenuhi standar, semua guru sains harus memiliki pengetahuan dasar yang cukup kuat dan luas agar dapat:

  • Memahami hakikat inkuiri ilmiah dan perannya dalam sains serta bagaimana prakteknya
  • Memahami fakta dan konsep dasar dalam disiplin ilmu sains
  • Mampu membuat hubungan konsep dari berbagai disiplin ilmu sains, termasuk juga matematika, teknologi dan mata pelajaran lainnya.
  • Menggunakan pemahaman dan kemampuan ilmiah dalam isu-isu sosial dan personal.

Keluasan materi yang harus dikuasai oleh guru adalah merujuk kepada pemahaman dasar minimal tentang sains dan bagaimana pembelajarannya pada setiap tingkat kelas. Kedalaman materi merujuk pada pengetahuan dan pemahaman mendasar tentang berbagai disiplin ilmu sains serta eksperimen penunjang dan latar belakang teorinya pada setiap tingkatan kelas. Misalnya guru TK yang memiliki kemampuan umum untuk mengajar semua materi, bertugas untuk meletakkan pondasi dasar tentang konsep, pengalaman serta sikap yang menjadi bekal untuk mempelajari sains pada tingkat selanjutnya melalui berbagai aktivitas inkuiri. Guru SD perlu mengembangkan pemahamannya tentang pengetahuan konten sains dan pengalaman eksperimen yang mendalam setidaknya pada satu subjek sains, misalnya biologi. Pengetahuan sains pada tingkat SMP lebih mendalam lagi, karena lebih bersifat kuantitatif, membutuhkan keterampilan bernalar dan membutuhkan banyak peralatan serta teknologi yang lebih canggih. Dengan demikian, guru sains SMP perlu mengembangkan pemahaman yang mendalam tentang konsep sekurangnya satu disiplin ilmu sains.

Untuk dapat memenuhi tuntutan tersebut di atas, kuliah-kuliah penyiapan guru sains dan juga program-program kegiatan pengembangan profesional untuk guru sains harus didesain ulang dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

  • Penggunaan metode inkuiri dalam mengajarkan sains kepada guru, sehingga guru dapat memahami dan merasakan langsung bagaimana pengetahuan dan pemahaman mereka dapat terbangun melalui proses inkuiri.
  • Aktivitas dalam pengembangan profesional guru harus berbasis penyelidikan melalui kontak langsung dengan fenomena yang ada, mengumpulkan dan menginterpretasi data dengan menggunakan teknologi yang sesuai, serta terlibat langsung dalam kelompok untuk memecahkan masalah open-ended.
  • Aktivitas pengembangan profesi guru harus melatih mereka untuk peka terhadap masalah, isu-isu dan topik-topik penting yang berhubungan dengan sains dan kehidupan masyarakat.
  • Kegiatan dalam pengembangan profesional guru hendaknya dapat membangun keterampilan bernalar yang dituangkan dalam bentuk artikel penelitian yang didalamnya mengharuskan guru untuk terlibat dengan berbagai teknologi, literatur, media dan berbagai peralatan laboratorium.

 

Standar B

“Pengembangan profesional untuk guru sains harus mengintegrasikan pengetahuan tentang sains, pembelajaran, pedagogi, dan siswa serta mengaplikasikan pengetahuan tersebut dalam mengajar sains”

Mengajarkan sains secara efektif tidak sekedar hanya mengetahui tentang konten sains dan beberapa strategi mengajar, namun juga membutuhkan pemahaman dan kemampuan khusus yang mengintegrasikan pengetahuan mereka tentang konten sains, kurikulum, belajar, mengajar, dan siswa. Kemampuan ini disebut pengetahuan konten pedagogi atau Pedagogical Content Knowledge (PCK), yang membedakan antara guru sains dan ilmuwan.

Guru sains juga perlu mengetahui bagaimana siswa dengan umur tertentu belajar mencari tahu dan melakukan sesuatu, apa yang dapat dengan cepat mereka pelajari dan apa yang sulit mereka pelajari. Guru juga harus mempertimbangkan latar belakang siswa yang berbeda, motivasi, gaya belajar dan ketertarikan yang berbeda dari setiap siswa. Guru menggunakan semua pengetahuan tersebut untuk membuat keputusan tentang tujuan pembelajaran, strategi mengajar, tugas-tugas yang harus dikerjakan siswa dan bahan-bahan yang digunakan. Mereka juga harus terbuka dengan konten kurikulum yang luas dan dapat memilah secara efektif mana yang akan digunakan dan memilih aktivitas yang sesuai dengan siswa sehingga dapat meningkatkan pemahaman mereka tentang sains.

Penilaian dalam pembelajaran juga tidak luput dari kinerja seorang guru sains. Melalui penilaian guru melakukan evaluasi terhadap pembelajaran yang telah dilakukan untuk melakukan perbaikan terhadap pembelajaran berikutnya. Berbagai macam strategi penilaian dapat guru lakukan untuk mendapatkan informasi yang bermanfaat bagi perkembangan peserta didiknya. Guru dapat memanfaatkan kolaborasi dengan teman sejawat untuk mengevaluasi praktek mengajarnya di dalam kelas. Umpan balik seperti ini juga dapat digunakan bagi guru untuk memperbaiki cara mengajarnya.

Pengembangan kemampuan guru tentang PCK (Pedagogical Content Knowledge) dapat dibangun melalui pengalaman yang terus menerus, namun hal ini tidaklah cukup mengingat pengetahuan guru tentang konten sains yang terbatas serta perkembangan ilmu sains dan pedagogi yang begitu pesat, menuntut seorang guru harus melakukan kegiatan pengembangan profesional yang berkaitan dengan hal tersebut. orang-orang yang bertanggung jawab dalam kegiatan pengembangan profesional saling bekerjasama satu dengan lainnya dan juga dengan guru agar dapat mengintegrasikan antara pengetahuan dan pengalaman dalam mengajarkan sains. Misalnya, seorang instruktur dengan latar belakang ilmu sains bekerjasama dengan instruktur lain yang memiliki latar belakang ilmu pendidikan dalam suatu kegiatan pengembangan profesional guru untuk mengajarkan suatu konsep sains kepada siswa; kepala sekolah mengundang ahli dari lembaga riset penelitian sains atau dari industri dalam kegiatan pengembangan profesional bagi guru sains di sekolahnya.

Cara lain yang dapat dilakukan untuk menghubungkan antara konten sains dan pengajaran adalah melalui praktek langsung dilapangan, team teaching, penelitian kolaborasi dan peer coaching. kegiatan-kegiatan ini sebisa mungkin melibatkan siswa langsung, aktivitas nyata dari siswa dan kurikulum yang sehari-hari digunakan oleh mereka. Melalui situasi mengajar yang berbeda-beda, refleksi, interaksi dan umpan balik dengan teman sejawat, serta pengulangan trial dan error dalam mengajarkan sains dapat memperkaya guru akan pengetahuan, pemahaman dan pengalaman mereka tentang PCK.

 

Standar C

“Pengembangan profesional untuk guru sains harus membangun pemahaman dan kemampuan untuk belajar sepanjang hayat”

Tugas utama seorang guru adalah memacu siswa untuk belajar. Hal ini berlaku juga untuk guru tersebut yang harus mendedikasikan dirinya untuk selalu belajar. Mengajar itu rumit, perlu selalu belajar dan melakukan refleksi berkelanjutan. Pengetahuan baru, keterampilan dan strategi mengajar datang dari berbagai macam sumber, seperti hasil riset, best practices, teman sejawat, pengawas, refleksi diri terhadap proses mengajar, refleksi dari hasil kerja siswa. Secara berkelanjutan, guru menggunakan pengetahuan baru ini sebagai pondasi dalam pembelajaran di kelasnya.

Seorang guru yang efektif mengetahui bagaimana mengakses sumber-sumber hasil penelitian ketika dia menghadapi kesulitan dalam mengajar dan kemudian memprektekkan hasil penemuan tersebut untuk mengatasi masalahnya. Seorang guru sains harus mampu melakukan penelitian tentang mengajarkan sains dan membagi pengalamannya dengan guru lainnya. Kemampuan ini hendaknya dilakukan secara terus menerus selama karirnya sebagai seorang guru sains.

Sebagai pembelajar, guru perlu melakukan refleksi terhadap praktik dan teknik mengajarnya. Aktifitas perkuliahan calon guru harus mengalokasikan waktu bagi calon guru untuk mempelajari berbagai teknik refleksi, demikian juga guru profesional juga perlu mengembangkan kemampuan ini. Banyak strategi yang dapat dilakukan, diantaranya adalah: refleksi diri melalui catatan jurnal harian, rekaman audio dan video, atau portofolio siswa yang dapat digunakan guru untuk memotret hasil mengajarnya, manajemen waktu mengajar, menganalisis kemajuan belajar, dan mengidentifikasi kebutuhan untuk pembelajaran selanjutnya. Teknik lainnya adalah melalui observasi teman sejawat, coaching, mentoring bagi guru-guru pemula baik secara formal ataupun non formal. Guru juga dapat membentuk kelompok belajar non formal atau formal (KKG, MGMP) sebagai sarana untuk berbagi pengalaman.

Guru pembelajar juga membutuhkan pengembangan profesi yang dapat membantu mereka untuk selalu belajar dan mencari tahu serta menggunakannya dalam praktek mengajarnya di kelas. Kegiatan yang dapat dilakukan antara lain mengikuti diklat formal atau informal yang dapat memberikan pengetahuan tentang perkembangan sains terkini, akses pada penelitian tentang kurikulum , pengajaran dan penilaian melalui jurnal dan pertemuan seminar ataupun belajar dari observasi terhadap guru lain. Hal lainnya yaitu melakukan penelitian berbasis kelas baik secara formal ataupun informal untuk memperbaiki praktek mengajarnya.

 

Standar D

“Program pengembangan profesional untuk guru sains harus koheren dan terintegrasi”

Pengembangan profesi bagi seorang guru sangatlah kompleks dan bervariasi. Banyak hal yang harus diketahui dan dikuasai oleh seorang guru sains, banyak bahan dan materi yang harus diperbaiki, banyak pertanyaan yang harus di teliti untuk di temukan solusinya, dan banyak informasi dari para pakar yang harus dipahami. Semua informasi tersebut hendaknya harus koheren dalam serangkaian kegiatan pengembangan profesional agar memberikan makna dan manfaat yang berarti bagi kebutuhan guru. Ptogram pendidikan calon guru membutuhkan mekanisme dan strategi agar dapat menghubungkan dan mengintegrasikan antara materi sains, pedagogi dan pengalaman klinis (seperti pengalaman langsung di sekolah dan kelas). Demikian juga halnya dengan kegiatan pengembangan profesional bagi guru di sekolah.

Program pengembangan profesional harus didesain tidak hanya membahas tentang keterampilan teknis, tetapi juga pengetahuan teoritis yang mendalam dan keterampilan praktisnya. Aktivitas pengembangan profesional harus mempertimbangkan waktu agar guru dapat menyerap pengetahuan, mempraktekannya dan meningkatkan keterampilannya dalam mengajar. Adanya kolaborasi antara guru, para ahli dari universitas, dan stake holder lainnya dalam suatu kegiatan pengembangan profesional perlu dilakukan untuk meningkatkan efektifitas dan kebermanfaatan dari kegiatan ini. Evaluasi yang berkelanjutan dalam suatu kegiatan pengembangan profesional sangatlah dibutuhkan untuk memastikan bahwa pelaksanaan program berjalan efektif dan bermanfaat sesuai dengan kebutuhan guru.

E. Pembahasan Pengembangan Profesional Guru IPA

Praktek Pengembangan Profesional Negara-negara OECD

Pembahasan berikut akan berkisar pada hasil survey yang dilaksanakan oleh OECD melalui Teacher and Learning International Survey (TALIS). Survey ini menggambarkan kegiatan pengembangan profesional guru, dampaknya, kendala yang dihadapi serta kebutuhan akan kegiatan pengembangan profesional sesuai dengan tuntutan pekerjaan para guru di negara-negara anggota OECD.

Gambar 1 menunjukkan tingkat partisipasi guru dalam mengikuti kegiatan pengembangan profesional. Dari 23 negara yang mengikuti survey, hampir 89% guru melaporkan bahwa mereka mengikuti kegiatan pengembangan profesional selama survey berlangsung (setidaknya 1 hari kegiatan dalam kurun waktu 18 bulan). Bahkan untuk negara yang tingkat partisipasinya di bawah rata-rata, misalnya turki, persentase mengikuti kegiatan pengembangan profesional masih di atas 70%. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan pengembangan profesional telah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari yang dilakukan oleh guru di negara peserta survey.

Gambar 1. Persentase guru yang mengikuti kegiatan pengembangan profesional dalam kurun waktu 18 bulan terakhir (2007-08) (OECD, 2009)

 

Hasil dari survey TALIS 2013 (OECD, 2013) menyatakan bahwa kegiatan pengembangan profesional yang sering dilakukan oleh guru adalah workshop, rata-rata sebanyak 71% guru SMP melakukan kegiatan ini selama proses survey berlangsung. Selain workshop, kegaiatan lain yang sering dilakukan adalah menghadiri seminar pendidikan (44%) dan ikut serta dalam kelompok kerja guru (37%). Kegiatan yang paling jarang dilakukan adalah melakukan kunjungan observasi ke organisasi publik ataupun non pemerintah (13%) dan kegiatan in service training pada organisasi tersebut (14%). Gambar 2 menunjukkan hasil survey untuk kegiatan pengembangan profesional yang dilakukan oleh guru SMP dalam kurun waktu 12 bulan terakhir.

Gambar 2. Jenis kegiatan pengembanagn profesional yang dilakukan oleh guru SMP (OECD, 2013)

 

Dari kedua hasil tersebut diatas, selanjutnya kita akan melihat dampak yang dirasakan guru setelah mengikuti berbagai kegiatan pengembangan profesional. Hasil survey TALIS pada negara peserta survey menunjukkan kejanggalan antara tingkat partisipasi guru dan dampak kegiatan pengembangan profesional “program kualifikasi” yang menempati peringkat kedua tertinggi (87%) atas dampak yang paling berpengaruh bagi guru, padahal tingkat partisipasi guru pada kegiatan ini adalah yang paling rendah (25%) dibandingkan dengan kegiatan lainnya (Gambar 3).

Gambar 3. Perbandingan antara dampak dan tingkat partisipasi guru pada kegaiatan pengembangan profesional (OECD, 2009)

 

Hasil lainnya yang serupa adalah partisipasi dan dampak dari kegiatan “penelitian kolaborasi dan individu” yang menempati urutan tertinggi untuk dampak yang dirasakan guru dibandingkan dengan Sembilan kegiatan lain yang diikuti guru. Hal ini terjadi karena kegiatan program kualifikasi dan penelitian membutuhkan waktu yang lebih intensif dan kegiatan ini mengharuskan guru membayar sendiri untuk dapat mengikuti kegiatan ini. Biaya dan komitmen terhadap waktu yang umumnya menjadi penghalang bagi sebagian guru. Satu hal yang penting dalam penelitian ini, mereka rela mengeluarkan biaya sendiri untuk lebih memilih mengikuti kegiatan pengembangan professional yang efektif. Sebaliknya, kursus dan workshop, konferensi dan seminar pendidikan, memiliki tingkat partisipasi yang lebih tinggi namun dampaknya kurang bagi pengembangan guru.

Berdasarkan hasil survey OECD pada tahun 2013 (Gambar 4), kegiatan yang paling dibutuhkan untuk pengembangan professional adalah tentang “mengajar siswa berkebutuhan khusus”. Rata-rata sebesar 22% guru membutuhkan kegiatan ini. Siswa dengan kebutuhan khusus ini adalah siswa yang memiliki kekurangan secara fisik, mental dan emosi. Siswa dengan “bakat khusus” tidak termasuk dalam kelompok ini. Kegiatan lainnya yang dibutuhkan adalah “mengajar dengan teknologi informasi dan komunikasi” (19%) dan “menggunakan teknologi di tempat kerja” (18%).

Gambar 4. Kebutuhan guru akan kegiatan pengembangan professional (OECD, 2013)

 

Praktek Pengembangan Profesional Guru di Indonesia

Pengembangan professional guru di Indonesia dilaksanakan melalui program Pengembangan Profesi bagi Guru Pembelajar (PPGP). PPGP adalah pengembangan kompetensi guru yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan, secara bertahap, berkelanjutan untuk meningkatkan profesionalitas guru. Pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB) mencakup kegiatan perencanaan yang diawali dari hasil evaluasi diri, Uji kompetensi guru (UKG), dan Penilaian Kinerja Guru (PK Guru) oleh Kepala Sekolah dan/atau tim penilai sekolah pada pelaksanaan pembelajaran di kelas dan tugas lainnya. Mekanisme pengembangan profesi guru digambarkan dalam Gambar 5 berikut ini.

Gambar 5. Mekanisme Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (Kemdikbud, 2016)

Berdasarkan gambar di atas, mekanisme pengembangan keprofesian berkelanjutan diuraikan sebagai berikut:

  1. Evaluasi Diri, PK Guru, dan Uji Kompetensi

Setiap guru wajib mengikuti uji kompetensi yang diselenggarakan secara terpusat, dinilai kinerjanya setiap awal tahun (Januari), dan semua guru wajib melakukan evaluasi diri untuk merefleksikan kegiatan yang telah dilakukan pada tahun sebelumnya. Hasil uji kompetensi, penilaian kinerja guru dan evaluasi diri merupakan dasar bagi seorang guru untuk menyusun rencana kegiatan pengembangan keprofesian yang akan dilakukan pada tahun tersebut.

  1. Profil Kinerja Guru

Hasil PK Guru, uj kompetensi dan evaluasi diri guru yang dilengkapi dengan dokumen pendukung antara lain perangkat pembelajaran yang telah disiapkan oleh guru yang bersangkutan selanjutnya akan dijadikan sebagai hasil penilaian kinerja formatif. Penilaian Kinerja Formatif ini diperlukan untuk menentukan profil kinerja guru dalam menetapkan apakah guru akan mengikuti program peningkatan kinerja untuk mencapai standar kompetensi profesinya atau kegiatan pengembangan kompetensi lebih lanjut.

  1. Rencana pengembangan keprofesian berkelanjutan secara individu dalam penyusunan SKP.

Hasil profil kinerja guru kemudian dijadikan perencanaan pengembangan keprofesian guru yang dituangkan dalam SKP dari guru yang bersangkutan. Dalam penyusunan program PKB guru harus melakukan konsultasi dengan Kepala Sekolah dan coordinator PKB. Konsultasi ini diperlukan untuk menentukan apakah kegiatan PKB bagi guru dilaksanakan di sekolah atau KKG/MGMP/ MGBK dan/atau tingkat kabupaten/kota/provinsi sesuai dengan kewenangannya. Kegiatan  PKB yang dapat dilakukan oleh guru mencakup tiga hal, yakni pengembangan diri, publikasi ilmiah dan  karya  inovatif. (Tabel 1).

Tabel 1. Jenis-jenis kegiatan PKB (Kemdikbud, 2016)

  1. Penetapan Rencana PKB oleh Kepala Sekolah.

Koordinator PKB tingkat sekolah bersama dengan Kepala Sekolah menetapkan dan menyetujui rencana final kegiatan PKB bagi guru. Guru menerima Rencana PKB sekaligus penetapan penyusunan SKP (Sasaran Kinerja Pegawai) tahunan. Perencanaan tersebut memuat kegiatan PKB yang akan dilakukan oleh guru baik secara mandiri dan/atau bersama-sama dengan guru lain di dalam sekolah, di KKG/MGMP/MGBK maupun kegiatan yang akan dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan. Dinas Pendidikan diharapkan dapat memfasilitasi kegiatan PKB yang akan dilaksanakan di kabupaten/kota/provinsi sesuai dengan kewenangannya dan memberikan anggaran atau subsidi kepada sekolah maupun KKG/MGMP/MGBK.

  1. Pelaksanaan pengembangan keprofesian berkelanjutan guna mendukung PPGP

Guru melaksanakan kegiatan PKB berdasarkan perencanaan baik di dalam dan/atau di luar sekolah. Sekolah berkewajiban menjamin bahwa kesibukan guru melaksanakan kegiatan PKB tidak mengurangi kualitas pembelajaran peserta didik.

  1. Pelaksanaan PKG Akhir Tahun

Setelah mengikuti program PKB, guru wajib mengikuti penilaian kinerja guru sumatif di akhir tahun ajaran. Penilaian kinerja sumatif dimaksudkan untuk melihat peningkatan kompetensi yang telah dicapai oleh guru setelah melaksanakan PPGP. Selain itu, hasil penilaian kinerja yang diperoleh akan dikonversi ke perolehan angka kredit. Gabungan angka kredit perolehan dari penilaian kinerja guru dan PKB yang telah diikuti guru akan diperhitungkan untuk kenaikan pangkat dan jabatan fungsional guru serta merupakan bahan pertimbangan untuk pemberian tugas tambahan. Sebagai bukti bahwa guru telah melaksanakan kegiatan PKB, guru diwajibkan membuat deskripsi diri.

  1. Melaksanakan Refleksi

Di akhir tahun, semua guru dan koordinator PKB tingkat sekolah melakukan refleksi tentang PKB yang telah diikutinya selama 1 tahun, apakah telah memberikan manfaat untuk meningkatkan kompetensi guru dalam melaksanakan pembelajaran. Hasil reflksi juga dapat berdasarkan kegiatan monitoring dan evaluasi oleh coordinator PKB tingkat sekolah pada pertengahan tahun.

  1. Tindak Lanjut

Hasil penilaian kinerja guru (PK Guru) tahun sebelumnya bagi yang sudah melaksanakan, Penilaian Prestasi Kerja (PPK), dan UKG, serta hasil program PKB sebelumnya digunakan sebagai dasar menyusun perencanaan program pengembangan keprofesian berkelanjutan tahun berikutnya.

 

Permasalahan Kegiatan Pengembangan Profesional

Kegiatan pengembangan professional bukan hanya sekedar menyediakan berbagai jenis atau bentuk kegiatan yang dapat diikuti oleh para guru, namun bagaimana keefektifan dari program kegiatan tersebut harus mendapatkan perhatian yang serius dari lembaga penyelenggara kegiatan. Kebutuhan peserta didik yang semakin meningkat seiring dengan perkembangan zaman, ilmu pengetahuan dan teknologi, menuntut guru harus mengikuti dan beradaptasi oleh perubahan tersebut dengan mengikuti kegiatan pengembangan professional yang berkelanjutan.

Standar kegiatan pengembangan professional telah banyak dipaparkan pada bahasan sebelumnya, namun untuk mencapai standar tersebut banyak kendala yang ditemui dalam pelaksanaan kegiatan pengembangan professional guru. Beberapa kendala yang ditemukan baik di luar negeri ataupun di Indonesia adalah sebagai berikut:

  1. Hasil penelitian Kane & Stainger (2012) menunjukkan bahwa masih banyak kelemahan guru dalam memberikan instruksi yang menuntut siswa berpikir kritis dan memecahkan masalah, namun bentuk kegiatan pengembangan profesi guru belum mengarah kepada hal tersebut.
  2. Hasil penelitian juga menyebutkan bahwa dari sekina banyak program kegiatan pengembangan professional yang dilakukan guru, 90% guru menyatakan bahwa kegiatan tersebut tidak berguna bagi peningkatan kompetensi mereka (Darling_Hammond et al., 2009).
  3. Saat ini, bentuk kegiatan pengembangan professional yang paling umum dilakukan adalah workshop yang waktunya hanya satu kali. Hasil penelitian Young (2013) menyatakan bahwa kegiatan workshop memiliki catatan buruk dalam mengubah cara mengajar guru untuk meningkatkan prestasi siswanya.
  4. Kegiatan pengembangan professional hanya belajar teori saja namun sangat kurang dalam mengembangkan keterampilan praktik mengajar di kelas. Diklat ataupun workshop yang dilaksanakan jarang ditindaklanjuti dengan coaching ataupun mentoring, sehingga guru seringkali merasa kebingungan dalam menerapkan ilmu yang dia dapatkan pada saat diklat. Akibatnya, guru kembali mengajar dengan pola tradisional kembali.
  5. Di Indonesia, sistem pendidikan dan latihan bagi para guru umumnya dilakukan secara berjenjang mulai dari ToT (Training of Trainers) tingkat pusat, provinsi, kabupaten sampai ke tingkat sekolah. Proses yang seperti itu menyebabkan informasi yang disampaikan menjadi lebih beragam hingga ke tingkat sekolah. Perbedaan pemahaman dari para instruktur menyebabkan penyampaian yang berbeda hingga ke tingkat guru. Belum lagi banyak instansi yang menyelenggarakan kegiatan serupa namun pemahaman instrukturnya berbeda pula.
  6. Kegiatan pengembangan professional lebih banyak diberikan kepada para guru, namun kepala sekolah dan pengawas sekolah jarang mendapatkan kegiatan yang seintensif guru. Padahal, kepala sekolah dan ngawas sekolah memiliki peranan yang sentral dalam melakukan pembinaan terhadap praktek mengajar guru di sekolah.
  7. Mekanisme program PKB yang telah dipaparkan diatas menunjukkan bahwa dinas juga memiliki peran dan tanggung jawab dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan PKB di tingkat Kabupaten. Namun kenyataannya, seringkali kegiatan tersebut tidak berkoordinasi dengan lembaga lainnya, termasuk pemerintah pusat. Akibatnya, banyak kegiatan yang tumpang tindih, demikian pula peserta diklat yang diundang. Tidak jarang mereka yang diundang mengikuti kegiatan, sudah mengikuti kegiatan yang sejenis diinstansi lain. Padahal masih banyak guru yang belum mendapatkan kesempatan yang sejenis.

 

Solusi permasalahan

Untuk mengatasi permasalahan terkait dengan praktek pengembangan professional, berikut ini solusi yang dapat diterpkan berdasarkan beberapa penelitian para ahli:

  1. Durasi pelaksanaan kegiatan pengembangan professional haruslah sesuai dengan kebutuhan guru agar dapat memberikan kesempatan bagi guru untuk mempelajari dan menerapkan strategi baru sesuai dengan kondisi kelasnya masing-masing. hasil penelitian Corcoran et al. (2003) menemukan bahwa guru yang mengikuti kegiatan pengembangan professional selama ≥80 jam, secara signifikan menunjukkan penggunaan praktek mengajar sesuai dengan yang telah mereka pelajari dibandingkan dengan guru yang mengikuti kegiatan <80 jam.
  2. Harus ada pendampingan bagi guru dalam mengimplementasikan pengetahuan yang mereka dapatkan dan perubahan pada praktek di kelas. Guru yang didampingi oleh coach dapat mengaplikasikan pengetahuannya di dalam praktek mengajar di kelasnya, sedangkan guru yang hanya mendapatkan pengetahuan dari workshop saja, tidak mempraktekannya di kelas (Truesdale, 2003).
  3. Cara penyampaian informasi dengan teknik modeling, jauh lebih efektif dalam membantu pemahaman guru akan pengetahuan yang mereka peroleh. Misalnya, daripada mendengarkan materi tentang pembelajaran inquiri pada suatu acara workshop atau diklat, peserta akan lebih bisa memahami dengan mengamati instruktur yang mempraktekkan langsung bagaimana pembelajaran sains dengan inkuiri di kelas dengan siswa yang nyata.
  4. Pemerintah daerah hendaknya bekerjasama dengan lembaga/institusi lain yang menyelenggarakan diklat atau workshop, sehingga dana yang ada bisa digunakan secara maksimal. Selain itu dana untuk pengembangan professional guru lebih banyak dialokasikan untuk mengembangkan program coaching di kelas atau laboratorium, dimana guru didampingi oleh seorang coach dalam mengimplementasikan pengetahuan baru yang didapat dari workshop.

 

  1. Kesimpulan

Dunia pendidikan masih menyimpan banyak hal untuk diselesaikan dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran terutama menjadikan guru sebagai pengajar yang professional. Hak guru sebagai tenaga profesional adalah memperoleh kesempatan untuk pengembangan keprofesian mencakup berbagai cara dan/atau pendekatan dimana guru secara berkesinambungan belajar setelah memperoleh pendidikan dan/atau pelatihan awal sebagai profesi.

Dukungan kebijakan yang kuat dari pemerintah dan peran serta banyak pihak diperlukan dalam melaksanakan pembinaan profesionalisme guru melalui sIstem yang terpadu. Kebijakan pembinaan dan pengembangan profesi guru harus dilakukan secara kontinyu, dengan serial kegiatan tertentu. Melalui pembinaan ini diharapkan dapat memperkecil jarak antara pengetahuan, keterampilan, kompetensi sosial dan kepribadian yang mereka miliki sekarang dengan apa yang menjadi tuntutan ke depan berkaitan dengan profesinya itu. Dengan demikian, guru akan terampil membangkitkan minat peserta didik kepada ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memiliki integritas kepribadian yang tangguh untuk mampu berkompetitif.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Chung Wei, Darling-Hammond, L., Adamson, Frank. 2010. Professional Development in The US : Trends and Challenges. Dallas, TX. National Staff Development Council.

Corcoran, T., McVay, S., & Riordan, K. 2003. Getting it right: The MISE approach to professional development. Philadelphia, PA: Consortium for Policy Research in Education.

Darling-Hammond, L., Chung Wei, R., Andree, A., & Richardson, N. 2009. Professional learning in the learning profession: A status report on teacher development in the United States and abroad. Oxford, OH: National Staff Development Council.

Gulamhusein, Allison. 2013. The Teachers: Effective Professional Development in an Era of High Stakes Accountability. Center for Public Education.

Komba,W.L & Nkumbi,E. 2008. Teacher Professional Development in Tanzania : Perceptions and Practice. Journal of International Cooperation in Educaion, CICE Hiroshima University.

Kemdikbud. 2016. Buku 1: Pedoman Pengelolaan Pengembangan Keprofesionalan Berkelanjutan bagi Gurur Pembelajar. Kemdikbud : Jakarta.

Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi.2009. Permennegpan & RB No.16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Jakarta.

National Research Council (1996). National Science Educational Standard. National Academic Press. Washington DC.

OECD. 2009. Creating Effective Teaching and Learning Environment: First Results from TALIS. http://www.oecd.org

OECD. 2013. Indicator D7: How extensive are professional development activities for teachers?. http://www.oecd.org

Truesdale, W. T. 2003. The implementation of peer coaching on the transferability of staff development to classroom practice in two selected Chicago public elementary schools. University Microfilms.

Youngs, P. 2013. Using teacher evaluation reform and professional development to support Common Core assessments. Washington, D.C. : Center for American Progress.

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

16 + 8 =

Pin It on Pinterest