lpmp banten DAMPAK NEGATIF SINETRON TERHADAP PRILAKU ANAK REMAJA DAN PENCEGAHANNYA – lpmpbanten.net

DAMPAK NEGATIF SINETRON TERHADAP PRILAKU ANAK REMAJA DAN PENCEGAHANNYA

Lima Cara Wujudkan Metode Mengajar Kreatif
March 8, 2017
Roadshow sosialisasi program LPMP Banten
March 8, 2017

Ali Winata

Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran LPMP Banten

Abstrak

Tulisan ini berisikan uraian tentang dampak negatif yang diakibatkan oleh tayangan sinetron di televisi terhadap prilaku anak remaja. Dengan memperhatikan maraknya keberadaan siaran sinetron di stasion televisi saat ini, maka perlu kiranya kita untuk dapat memaknai sinetron yang ditayangkan dari isi wacana yang ditampilkan, baik dari isi cerita, seting dan penokohannya. Berdasarkan wacana tersebut, kita akan melihat sejauh mana dampak negatif yang akan mempengaruhi prilaku anak remaja saat ini dan bagaimana cara kita mencegar agar pengaruh negatif tersebut dapat dikurangi sedini mungkin. Oleh karenanya tulisan ini dapat menjadi masukan yang berarti bagi para orang tua dan para tenaga pendidik serta pemangku kebijakan dalam rangka mengantisipasi dampak negatif televisi terutama siaran sinetron bagi anak remaja kita..

Kata kunci : televisi,sinetron,remaja

 

Pendahuluan

Kehadiran teknologi televisi dasarnya didorong oleh keinginan manusia untuk mengatasi keterbatasan jarak, waktu dan ruang dalam berkomunikasi antar sesama manusia. Televisi mulai diperkenalkan pada tahun 30-an dan sampai saat ini televisi telah menjadi sebuah media yang sangat penting di semua negara. Media televisi ini menjadi faktor utama dalam menerapkan transfaransi dan akuntabilitas sektor sosial, budaya dan politik dalam sebuah kehidupan demokrasi. Isu publik dilemparkan dalam berbagai acara di dalam televisi untuk mendapatkan perhatian masyarakat, sehingga wacana-wacana pandangan yang berbeda-beda digaungkan lewat media ini yang akhirnya mencoba untuk membentuk public opinion sebagai alat untuk mempercepat modernisasi.

Keberadaan televisi saat ini menggambarkan betapa berperan pentingnya dalam mengisi informasi di kehidupan masyarakat. Televisi telah menyita waktu dan perhatian yang lebih banyak dibandingkan dengan media lainnya. Hal ini dikarenakan mayarakat tidak perlu keluar rumah untuk mendapatkan informasi tentang kehidupan masyarakat di sekitarnya dan tidak perlu memerlukan kemampuan membaca yang tinggi serta dapat mencapai khalayak yang heterogen sekaligus. Menurut Ashadi siregar (2001:2) dijelaskan bahwa dengan hadirnya media televisi dirasakan telah menggantikan peran sumber-sumber pendidikan konvensional dan tradisional. Orang tua, pemuka agama dan guru telah kehilangan peranannya secara draktis. Waktu yang dihabiskan anak-anak bersama televisi di berbagai keluarga bisa lebih banyak dibandingkan dengan orang tua, lebih-lebih dengan guru.

Dengan hadirnya banyak TV swasta, maka perubahan besar terjadi dalam percaturan bisnis pertelevisian di Indonesia. Di era globalisasi yang mengusung akan kebebasan berbisnis menuntut sebuah persaingan yang sangat kuat untuk mencari keuntungan oleh setiap stasiun TV komersial. Politik ekonomi sudah barang tentu di dalamnya memiliki politik budaya. Dalam perang bisnis ini terjadi pada TV swasta yang notabene merupakan TV komersial. Sebagai TV komersial maka ideologi kapitalis memegang peranan yang sangat tinggi yaitu berusaha untuk memiliki keuntungan yang sebesar-besarnya. Bagi stasiun TV swasta, penonton yang bermanfaat adalah penonton yang potensial sebagai konsumen produk industrial. Simbiosis stasiun TV swasta dengan dunia industrial terjadi melalui penonton yang dapat menjadi konsumen dari berbagai produk. Stasion TV swasta tidak dapat menjual angka penontonnya jika tidak dapat meyakinkan produsen tentang sosial ekonomi budaya dan gaya hidup penonton yang relevan bagi produknya atau penonton yang potensial untuk menerima citra suatu produk sebagai bagian gaya hidup (Ashadi Siregar,2001:72). Keuntungan ini tentunya didapatkan dari banyaknya jumlah penonton yang menonton TV swasta tersebut. Maka para TV swasta dengan sekuat tenaga berusaha membuat pola-pola acara yang dapat menarik simpati banyak penonton dengan menggunakan berbagai cara. Menurut Wardhana (2001:77) dalam bisnis pertelevisian, terutama televisi komersial, tidak ada kekhasan broadcast; yang ada adalah kekhasan masing-masing program bukan masing-masing broadcast dan keniscayaan bisnis televisi komersial biasanya selalu mengekor bila ada program yang menarik perhatian penonton di salah satu stasion televisi.

Menurut Anwas (2009) menjelaskan bahwa media massa yang paling tinggi di akses adalah media televisi, sedangkan subtansi yang ditonton sebagian besar adalah hiburan. Banyak masyarakat yang khawatir dengan berbagai tayangan di televisi yang menghadirkan acara berbau kekerasan, sex kehidupan glamor serta konsumtif yang jauh dari realitas masyarakat kita. Salah satu program acara yang saat ini menjadi primadona bagi para TV komersial adalah sinetron. Sinetron menjadi unggulan program lokal dan merajai prime time hampir semua stasiun televisi.  Apabila kita menonton sinetron di berbagai stasion TV swasta ibarat menyaksikan cerita yang serba kagok dan terkadang membuat kesel dan dongkol. Ceritanya kadang tidak jelas dan dialurkan bercabang sehingga jika tidak menonton satu episode saja kita akan merasa bingung. Semuanya sepertinya dibuat sekedar memenuhi permintaan sponsor, atau dibuat panjang dengan isi cerita dan gambar yang banyak tidak sesuai dengan kehidupan masyarakat kita terutama pada prilaku para tokohnya dengan mengedepankan memunculkan konflik hanya karena perbedaan status sosial dan ekonomi. Hal inilah yang mendasari mengapa perlunya dibahasnya tentang pemaknaan dampak sinetron dan bagaimana pencegahannya terhadap anak kita agar tidak mudah terpengaruh oleh cerita sinetron dengan prilaku yang menyimpang dari kehidupan masyarakat kita. Berdasarkan masalah tersebut, maka tulisan ini bertujuan untuk: 1)menjelaskan wacana sinetron bagi anak, 2) mengkaji dampak sinetron terhadap prilaku anak remaja, 3) menjelaskan bagaimana pencegahan dampak sinetron terhadap prilaku anak remaja.

Wacana Sinetron Yang Ditayangkan

Hampir semua stasiun TV swasta selalu menayangkan sinetron yang mengusung tentang dunia anak terutama anak remaja menjadi pilihan utama bagi mereka. Sasaran anak-anak remaja ini memiliki potensi yang sangat tinggi untuk menarik simpati sinetron tersebut. Hal ini dilandasi dengan banyaknya kaum remaja di negara kita diantara 248 juta jiwa penduduk Indonesia. Dari banyaknya tayangan sinetron remaja yang ada, ternyata sinetron dengan cerita yang menarik serta mendidik dirasakan sangat kurang sekali. Sebagian besar sinetron remaja yang tayang dirasakan sangat kurang mendidik. Sinetron remaja yang ramai ditayangkan di televisi Indonesia didominasi oleh konflik-konflik yang tidak menggambarkan kehidupan santun yang sesuai budaya bangsa. Alur cerita diisi dengan perebutan pacar, sikap hidup konsumtif dan gaya hidup modern dan western seperti dugem dan kongkow. Sinetron menenamkan nilai tertentu yang mempengaruhi budaya dalam masyarakat.
menurut DeFleur (1970) dalam Mulyana (2008) mengungkapkan teori norma budaya (the Cultural Theory) bahwa pada dasarnya media massa lewat sajiannya yang selektif dan tekanannya pada tema tertentu, menciptakan dan berkuasa mendefinisikan norma-norma budaya untuk khalayaknya.

Dilihat dari ceritanya sendiri, kebanyakan sinetron remaja yang sering ditampilkan dalam televisi menggunakan formula yang hampir sama yaitu persoalan cinta yang sangat kompleks dengan tambahan sekelumit permasalahan keluarga dan perselingkuhan. Kehadiran suasana keadaan keluarga yang ada dalam sinetron remaja pun seperti dalam mimpi. Selain tidak realistik, kebanyakan sinetron remaja menggambarkan perempuan dan laki-laki secara stereotip. Perempuan remaja digambarkan sebagai sosok yang lemah, cengeng, tertindas, tidak mandiri dan tergantung laki-laki. Sementara remaja laki-laki digambarkan sebagai sosok yang kuat, tegar, mempunyai kekuasaan, mandiri dan  melindungi tetapi penuh dengan kekerasan. Kemewahan dalam seting sinetron menjadi hal yang biasa. Sinetron yang dihadirkan mengangkat tentang remaja-remaja dari keluarga yang kaya raya dengan tokoh yang cantik dan tampan, rumah besar, mobil bagus, pakaian yang serba mahal, yang seolah menjadi keharusan bagi remaja-remaja dalam sinetron tersebut. Aspek seksualitas terlihat dari cara berbusana pemain yang menonjolkan daya tarik seksualnya hingga ekspresi cinta di antara mereka yang cenderung vulgar, mulai dari sekadar bergandengan tangan, berciuman, hingga berpelukan mesra layaknya suami-istri. Seks di dalam sinetron remaja kita dibicarakan dalam suasana yang gembira, ringan, komunikatif dan tanpa ada penghalang.

Sementara aspek kekerasan menjadi bumbu penyedap yang menajamkan konflik. Pemainnya diarahkan untuk menyelesaikan masalah dengan melibatkan jotosan kepalan tangan, urat leher yang menegang, dan jebakan-jebakan yang bisa merenggut nyawa. Dan dalam setiap episodenya tidak ada pemecahan masalah yang tepat untuk diungkapkan, dimana cerita dibuat mengambang. Seting tempat pada tayangan sinetron umumnya hanya menampilkan cerita kehidupan manusia di kota-kota besar dan yang lebih mengkhawatirkan lagi dalam sinetron remaja kita sering menggunakan seting sekolah. Sungguh sangat mengejutkan, dimana sekolah hanya digambarkan sebagai tempat untuk bergaul, berpacaran, dan kadang digunakan tempat lahirnya berbagai konflik yang terjadi pada diri tokoh yang main di sinetron tersebut. Wajah sinetron kita sekarang ini dipenuhi dengan aksi-aksi tokoh yang berpakaian seragam berpacaran, berkelahi, adu gengsi dan sebagainya. Guru digambarkan sebagai sosok yang lemah tanpa punya kekuatan karena selalu kalah dengan orangtua murid yang memiliki uang banyak untuk mengatasi permasalahan yang ada disekolah. Keberadaan guru sebagai pendidik hanya untuk meramaikan saja. Tidak ada lagi rasa hormat yang seharusnya ditunjukkan murid pada gurunya. Profesi guru kehilangan kewibawaan di hadapan murid. Yang lebih parah dijadikan bahan tertawaan. Citra pahlawan tanpa tanda jasa telah berubah menjadi citra pecundang tanpa wibawa.

Dampak Sinetron Terhadap Prilaku Anak Remaja

Sebuah penelitian American Psychological Association (APA) pada tahun 1995, menjelaskan bahwa tayangan yang bermutu akan mempengaruhi seseorang untuk berlaku baik, dan tayangan yang kurang bermutu akan mendorong seseorang untuk berlaku buruk. Dalam penelitian ini menyimpulkan bahwa hampir semua perilaku buruk yang dilakukan seseorang adalah pelajaran yang mereka terima sejak kecil.(giwmukti.multiply.com). Dengan demikian prilaku para remaja akan cenderung meniru tindakan yang mereka lihat. Sehingga keluar istilah ”what they see is what they do”, atau apa yang mereka lihat itu yang mereka lakukan dan tentunya sinetron memberikan salah satu andil yang besar terhadap prilaku remaja kita saat ini. Dampak dari tayangan sinerton tentunya ada yang bersifat positif dan negatif. Dampak yang positif terjadi apabila orangtua dapat mengontrol anaknya dan anak tersebut memiliki kesadaran dalam memilih tontonan atau sinetron yang baik untuk dirinya. Sedangkan dampak yang negatif terjadi apabila orangtua tidak dapat mengontrol anaknya dan anak tersebut tidak memiliki kesadaran dalam memilih tontonan atau sinetron yang baik untuk dirinya. Dampak yang juga sangat terlihat bagi remaja yang sering menonton sinetron akan mengubah pola hidup mereka.(Deasih:2012)

Bila mana tayangan sinetron remaja menyajikan cerita yang menarik serta mendidik tentunya akan berpengaruh positif dan menambah wawasan serta pengetahuan bagi seorang remaja seiring dengan perkembangan kehidupannya. Tetapi apabila sebaliknya dimana sinetron remaja kita tidak mendidik maka ada beberapa pengaruh negatif sinetron yang sangat berbahaya apabila ditirukan oleh para remaja sekarang ini. Menurut Rahmawati (2012) Bahkan terlalu banyak menonton sinetron bagi seorang remaja, mereka yang baru menginjak umur remaja sangat berbahaya baik dalam segi fisik maupun psikis. Hal ini dapat mengakibatkan sel-sel syaraf menjadi tidak sempurna karena sinetron tidak mengubah anak untuk berfikir. Sinetron memiliki gejala-gejala yang membahayakan bagi remaja karena akan menjadikan otak pasif, melumpuhkan kemampuan berpikir kritis, dan merusak kecerdasan otak sebelah kanan. Apalagi sinetron pada saat ini cenderung memperlihatkan kebiasaan-kebiasaan remaja yang kurang mendidik melainkan lebih cenderung mengedepankan masalah percintaan, bahkan tidak jarang pula menampilkan adegan-adegan berbau porno, gaya hidup berpenampilan gelamor, serta gaya-gaya berbicara yang tidak sesuai dengan kaidah yang baik.

Dampak yang sangat tersirat dan berbahaya dari tayangan sinetron adalah lahirnya budaya mimpi di kalangan anak remaja yang secara tidak langsung akan mempengarui terhadap prilaku mereka dalam keseharian kehidupannya. Anak remaja kita selalu berada di bayang-bayang mimpi akan karakter yang hebat, karakter yang tampan bagi para pria, karakter yang cantik bagi para wanita. Karakter yang selalu ingin menang baik dalam percintaan maupun dalam pergaulan. Karakter yang selalu ingin dikenal oleh banyak orang lewat tingkahnya yang terkadang jauh dari aturan moral yang ada. Mereka juga bergaya seolah-olah sedang bermimpi berada dalam kalangan kehidupan yang kaya raya, memiliki rumah mewah, memiliki perusahaan keluarga yang besar yang tentunya semua ini akan memberikan dampak pada kehidupan kesehariannya yang glamour seperti ingin memakai mobil mewah, handphone yang canggih, pakaian berkelas dan sebagaianya. Seperti disihir, Para remaja diajak untuk percaya bahwa kehidupan ideal adalah laki-laki tampan dan wanita cantik yang berbaju bagus, mengendarai kendaraan mewah, tinggal di rumah gedung indah, dan bergaya hidup bebas, seperti yang diciptakan dalam sinetron. Karena itu sinetron jadi alat yang sangat ampuh untuk perusahaan-perusahaan iklan menciptakan nilai-nilai baru yang menampilkan citra manusia yang dangkal, yang berbeda dengan potret manusia yang diciptakan Tuhan. Tentunya dengan satu tujuan yaitu mengajak para penonton remaja untuk memakai produk yang diiklankan dalam sinetron tersebut.Yang pada akhirnya para kaum remaja berlomba menirukan style apa yang ada di dalam cerita tanpa melihat siapa dan keadaan dirinya yang sebenarnya. Sehingga mereka terbuai akan mimpi-mimpi yang ada dalam sinetron pada dirinya.

Bila kita amati, dari tayangan sinetron yang disajikan ada remaja yang sekedar menyaksikan, tapi tidak terpengaruh lalu mengikutinya. Tetapi dirasakan lebih banyak remaja yang memang gemar menyaksikan dan terpengaruh untuk mengikuti hal tersebut guna mencari sensasi di lingkungan pergaulan. Remaja inilah yang paling rawan melakukan berbagai pelanggaran, karena mereka mudah terpengaruh dan ingin mencari sensasi dilingkungan pergaulan agar dapat disebut sebagai remaja yang gaul. Dari sinilah akhirnya muncul permasalahan sosial, dampak psikologis dari penonton remaja kita yang mengakibatkan rusaknya kesehatan mental sehingga timbul permasalahan dalam dirinya dan lingkungan disekitarnya. Bahaya sosial yang akan terjadi dari salahnya pemaknaan para remaja kita yang melihat sinetron tersebut adalah adanya pertentangan dalam dirinya untuk menirukan apa yang ada di dalam cerita sinetron tersebut dengan mengubah ideologinya dia yang sebenarnya. Dalam upaya merubah ideologinya inilah yang kadang dapat disalah-gunakan dengan menggunakan berbagai cara yang terkadang melanggar aturan yang membahayakan lingkungannya sehingga dapat merubah prilaku mereka menjadi negatif.

Sebagai contoh berita di www.tribunnews.com (2011) menceritakan adanya seorang anak remaja di lampung yang tega membunuh ayahnya karena keinginannya untuk memiliki motor tidak dipenuhi. Ayahnya tidak dapat memenuhi keinginan anaknya itu karena ia tak mampu untuk membelikan sepedah motor dengan keadaan keluarganya yang sangat serba kekurangan. Tetapi anak ini terus memaksa ayahnya karena ia merasa malu selalu diejek oleh kawan-kawannya. Bila kita amati permasalah yang ada, jelas bahwa remaja itu tidak hanya sekedar malu diejek tetapi ia ingin menjadi seseorang yang merasa dikagumi, disegani oleh teman-temannya seperti yang ada dalam persinetronan remaja kita.

Pencegahan Dampak Sinetron Terhadap Prilaku Anak Remaja.

Berbagai tanyangan TV terutama program sinetron ternyata terbukti cukup efektif dalam membentuk dan mempengaruhi perilaku remaja. Para remaja kita sebagai salah satu penonton produktif TV secara sadar atau tidak telah dicekoki budaya baru yang dikontruksi oleh ideologi pasar yang hedonisme. Hal ini dikarenakan, lapisan masyarakat yang paling mudah terbius dan terpengaruh dengan apa yang dilihatnya di televisi adalah anak-anak dan remaja. Usia anak-anak dan remaja merupakan masa labil seseorang. Dimana pada saat itu timbul rasa ingin menunjukkan diri. Oleh karena itu sikap meniru pada kalangan remaja merupakan suatu bentuk dari masa pubertas yang dialami oleh keadaan jiwa yang masih labil. Artinya jika mereka tidak dapat mengontrol diri dengan baik dan apabila waktu luang tidak dapat dimanfaatkan dengan sebaik mungkin, maka perbuatan iseng dan kenakalan lainnya mudah sekali terjadi.

Agar dapat membantu para remaja kita dari dampak negatif siaran sinetron yang ada saat ini, tentunya kita harus dapat mengarahkan mereka agar dapat memanfaatkan tanyangan TV secara positif. Oleh karenanya peran optimal orang tua sangat dibutuhkan terutama dalam mendampingi dan mengontrol tayangan sinetron yang ditontonnya. Orang tua harus sabar mendampingi anak-anaknya saat menonton TV terutama siaran sinetron sekaligus berupaya mananamkan daya pikir yang kreatif anak dalam belajar bersosial melalui siaran tersebut. Orang tua tidak perlu melarang anaknya menonton TV. Yang justru mendapat perhatian serius adalah bagaimana orang tua memilihkan acara yang betul-betul bermanfaat bagi pendidikan dan perkembangan anaknya, agar anak tersebut dapat terangsang untuk berfikir kreatif. Untuk mencegah dampak negatif tayangan televisi, berikut beberapa cara yang dapat orang tua lakukan, yaitu:

  1. Usahakan untuk mendampingi anak anda ketika menonton sinetron dan diskusikan tayangan tersebut bersama. Dengan cara ini, anak anda tidak hanya sekedar menonton tetapi mereka juga dapat memetik pelajaran (insight) dari tayangan yg mereka tonton. Buatlah jadwal menonton TV program sinetron apa saja yang boleh ditonton anak anda. Di luar jadwal tersebut, anda bisa mengisinya dengan “quality time” bersama anak anda, misalnya membantu mengerjakan PR, mengajari mereka memasak, berolahraga bersama, dan lain-lain.
  2. Maraknya tayangan yang tidak bermutu seperti sinetron dan reality show yang direkayasa dapat disiasati dengan berlangganan TV kabel. Banyak tayangan TV kabel yang bermutu bagi anak seperti Discovery Channel for Kids atau National Geographic. Satu lagi keuntungan TV kabel adalah anda dapat memproteksi saluran-saluran tertentu sehingga tidak dapat ditonton anak anda.
  3. Dalam menonton sinetron di televisi, selalu lihat rating film tersebut. Di Indonesia, biasanya rating tayangan TV dibagi menjadi SU (semua umur), BO (Bimbingan Orangtua), dan D (Dewasa).
  4. Terakhir tapi tidak kalah penting, bekerjasamalah dengan seluruh penghuni rumah anda (termasuk pembantu anda) untuk mengatur tayangan televisi di rumah anda karena inkonsistensi dapat membuat anak anda bingung. Segeralah mengganti saluran atau matikan televisi jika ada adegan yang tidak sesuai bagi anak anda. (psikoterapis.com)

 

Selain itu, yang tidak kalah pentingnya adalah adanya kontrol orang tua terhadap tayangan TV terutama siaran sinetron yang dianggap bernilai negatif juga dapat dilakukan secara langsung kepada stasiun TV yang menayangkannya atau kepada komisi penyiaran Indonesia (KPI). kontrol dengan cara ini sekarang lebih mudah dilakukan karena telah disediakan salurannya yang hampir semua TV di Indonesia memiliki telepon, fax, email, bahkan SMS. Seperti kita ketahui, KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) tanggal 1 September 2004 mengeluarkan keputusan tentang Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) dan Standar Program Siaran (SPS) melalui SK nomor 009/SK/KPI/8/2004 yang terdiri atas 9 Bab dan 82 Pasal.
Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) mengandung ketentuan-ketentuan mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dalam proses pembuatan program siaran. Sedangkan Standar Program Siaran (SPS) memuat ketentuan secara lebih spesifik mengenai apa yang boleh dan tidak boleh tersaji dalam siaran.Sebagai contoh misalnya Pasal 32 menerangkan bahwa program atau promo program yang mengandung muatan kekerasan dan adegan vulgar harus ditayangkan pada jam tayang dimana anak-anak biasanya sudah tidak menonton televisi.

Kesimpulan.

Keberadaan TV swasta baik yang cakupannya lokal maupaun nasional seharusnya sanggat diharapkan akan memberikan pencerahan budaya sekaligus pencerdasan melalui sajian informasi yang disampaikan secara tajam, objektif dan akurat, dengan sajian informasi yang tajam, maka akan mencerdaskan masyarakat dalam memahami berbagai persolan aktual baik di bidang ekonomi, pilitik, sosial, budaya, dan lain-lain. Yang menjadi keprihatinan kita, ternyata sebagian TV swasta memilih strategi yang kurang tepat untuk menggaet penonton, diantaranya lewat eksploitasi anak-anak dan remaja secara berlebihan terutama pada program sinetron yang menjadi prioritas mereka.

Siaran sinetron di televisi kita saat ini dirasakan telah memberikan pengaruh terhadap remaja karena kemampuan menciptakan kesan dan persepsi bahwa suatu muatan dalam layar kaca menjadi lebih nyata dari realitasnya sehingga mereka ingin mencoba apa yang mereka lihat di televisi itu dalam rangka aktualisasi diri di lingkungannya. Oleh karenanya, orang tua memiliki peranan yang sangat penting dan tidak bisa diabaikan dalam rangka melakukan pengawasan dalam menonton tayangan sinetron di televisi. Berbagai dampak negatif dari tayangan sinetron yang ada tentunya dapat diatasi dengan adanya peranan penting orang tua tersebut dan pendidikan lebih lanjut oleh guru di sekolah.

Pustaka

Ashadi Siregar, 2001, Menyikap Media Penyiaran, membaca televisi melihat radio, Yogyakarta, LP3Y Yogyakarta.

Anwas OM. 2000. Menjadikan televisi sebagai sahabat buku dalam upaya meningkatkan minat baca. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. No 022. Hal. 45-55.

Anwas OM,2012, Budaya litelasi media televisi,Jurnal Teknodika Pusat Teknologi Informasi an Komunikasi Pendidikan,No.4, hal.422-434.

Veven sp, Wardhana, 2001, Televisi dan Prasangka Budaya Masa, Jakarta, PT. Budaya Lintas Inti Nusantara.

http://kuliahtantan.wordpress.com/2012/03/18/tugas-psikologi-sosial-3-vivihrahmawati, pengaruh-sinetron-pada-psikis-anak-dan-remaja

http://giwmukti.multiply.com/journal/item/11/Dampak_Sinetron_bagi_anak_re maja_dan_keluarga?&show_interstitial

Deasi Annisa Rahmadhiani,2012, Pengaruh Sinetron Terhadap Perubahan Perilaku Negatif Remaja Di Desa Demangan Siman Ponorogo (Study Kasus Di Rt01/Rw01 Dan Rt02/Rw01 Desa Demangan Siman Ponorogo ), Skripsi, Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Ponorogo.

Mulyana, Deddy. 2008. Komunikasi Massa: Kontroversi, Teori, dan Aplikasi. Bandung: Widya Padjadjaran.

http://duniacfa.wordpress.com/2009/05/26/pengaruh-televisi-terhadap-budaya-masyarakat/

http://www.tribunnews.com/regional/2011/07/11/anak-tega-bunuh-ayah-karena-tak-dibelikan-motor

http:// www.psikoterapis.com /?en_mencegah-dampak-negatif-televisi-bagi-anak,105

Rachmawati D. 2009. Televisi dan Budaya Pop. Skripsi. Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Surakarta. Tidak Dipublikasikan.

Rifai HMR. 2004. Peran dan Tanggung Jawab Orang Tua terhadap Anak dalam Pendidikan Keluarga Menurut Konsespi Islam. Oryza Majalah Ilmiah Universitas Mataram. 3(1):1-12.

 

Leave a Reply